Model
pembelajaran Think-Paire-Share dikembangkan oleh Frank Lyman dan kawan-kawan
dari Universitas Maryland tahun 1985. Think-Paire-Share merupakan salah satu
model pembelajaran kooperatif sederhana yang memberi kesempatan kepada pada
untuk siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain.
Keunggulan model pembelajaran ini, yaitu mampu mengoptimalkan partisipasi siswa
.
Adapun
langkah-langkah dalam pembelajaran Think-Paire-Share adalah:
1. Guru membagi siswa dalam kelompok
berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok
2. Setiap siswa memikirkan dan
mengerjakan tugas sendiri.
3. Siswa berpasangan dengan salah
satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya.
4. Kedua pasangan bertemu kemnali
dalam kelompok berempat. Siswa berkesempatan untuk membagikan hasil
kerjanya kepada kelompok berempat
Tahap utama dalam pembelajaran Think-Paire-Share
menurut Ibrahim (2000:26-27) adalah sebagai berikut:
Ø Tahap1.Thinking(berpikir)
Guru mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan materi pelajaran. Kemudian siswa diminta memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
Guru mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan materi pelajaran. Kemudian siswa diminta memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
Ø Tahap2.Pairing(berpasangan)
Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Dalam tahap ini, setiap anggota pada kelompok membandingkan jawaban atau hasil pemikiran mereka dengan merumuskan jawaban yang dianggap paling benar atau paling meyakinkan.
Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Dalam tahap ini, setiap anggota pada kelompok membandingkan jawaban atau hasil pemikiran mereka dengan merumuskan jawaban yang dianggap paling benar atau paling meyakinkan.
Ø Tahap3.Sharing(berbagi)
Pada tahap akhir, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan, keterampilan berbagi dalam seluruh kelas dapat dilakukan dengan menunjuk pasangan yang secara sukarela bersedia melapirkan hasil kerja kelompoknya atau bergiliran dengan pasangan hingga sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.
Pada tahap akhir, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan, keterampilan berbagi dalam seluruh kelas dapat dilakukan dengan menunjuk pasangan yang secara sukarela bersedia melapirkan hasil kerja kelompoknya atau bergiliran dengan pasangan hingga sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.
Model pembelajaran ini dapat meningkatkan kemampuan
komunikasi siswa, karena siswa harus saling melaporkan hasil pemikiran
masing-masing dan berbagi (berdiskusi) dengan pasangannya. Selanjutnya
pasangan-pasangan tersebut harus berbagi dengan seluruh kelas. Jumlah anggota
kelompok yang kecil mendorong setiap anggota untuk terlibat secara aktif.
Kelebihan
model pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah:
1. Memungkinkan siswa untuk
merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang diajarkan karena secara
tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru, serta
memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan.
2. Siswa akan terlatih menerapkan
konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk mendapatkan
kesepakatan dalam memecahkan masalah.
3. Siswa lebih aktif dalam
pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok
hanya terdiri dari 2 orang.
4. Siswa memperoleh kesempatan untuk
mempersentasikan hasil diskusinya dengan seluruh siswa sehingga ide yang ada
menyebar. -
Memungkinkan guru untuk lebih banyak memantau siswa dalam proses pembelajaran
kelemahan model
pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah:
1.Banyak kelompok yang melapor dan
perlu dimonitor
2.Lebih sedikit ide yang muncul, dan
3.Tidak ada penengah jika terjadi perselisihan dalam kelompok.
2.Lebih sedikit ide yang muncul, dan
3.Tidak ada penengah jika terjadi perselisihan dalam kelompok.
Adapaun siklus regular
pembelajaran yang dimaksud adalah :
1.Tahapan pengajaran
2.Tahapan belajar tim
3.Tahapan tps
4.Tahapan penilaian
5. Tahapan rekognisi/penghargaan
Dalam TPS, guru menantang dengan pertanyaan terbuka dan
memberi siswa setengah sampai satu menit untuk memikirkan pertanyaan itu. Hal
ini penting karena memberikan kesempatan siswa untuk mulai merumuskan jawaban
dengan mengambil informasi dari memori jangka panjang. Siswa kemudian
berpasangan dengan satu anggota kelompok kolaboratif atau tetangga yang duduk
di dekatnya dan mendiskusikan ide-ide mereka tentang pertanyaan selama beberapa
menit.
Guru dalam hal ini dapat mengatur pasangan yang tidak
sekelompok untuk menciptakan variasi gaya gaya belajar bagi siswa. Struktur TPS
memberikan kesempatan yang sama pada semua siswa untuk mendiskusikan ide-ide
mereka. Hal ini penting karena siswa mulai untuk membangun pengetahuan
mereka dalam diskusi ini, di samping untuk mengetahui apa yang mereka dapat
lakukan dan belum ketahui. Proses aktif ini biasanya tidak tersedia bagi siswa
dalam pembelajaran tradisional hal ini sangat cocok untuk beberapa pembahasan
di pelajaran ekonomi.
Setelah beberapa menit guru dapat memilih secara acak
pasangan yang ingin berbagi di hadapan kelas. Proses ini dapat dilakukan dengan
meminta inisiatif siswa. Siswa biasanya lebih rela untuk merespon setelah
mereka memiliki kesempatan untuk mendiskusikan ide-ide mereka dengan teman
sekelas karena jika jawabannya salah, rasa malu dapat dirasakan bersama. Selain
itu, tanggapan yang diterima sering lebih intelektual sehingga melalui proses
ini siswa dapat mengubah atau merefleksi ide-ide mereka.
Struktur TPS juga meningkatkan
keterampilan komunikasi lisan siswa ketika mereka mendiskusikan ide-ide mereka
dengan satu sama lain. “Intermezzo” singkat ini juga dapat dijadikan kesempatan
yang tepat bagi guru untuk membahas konsep yang akan didiskusikan atau
dipelajari siswa pada periode berikutnya. Salah satu variasi dari struktur TPS
ini adalah siswa dapat menuliskan pikiran mereka di sebuah kartu dan
mengumpulkannya. Kemudian guru memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk
melihat apakah ada masalah dalam pemahaman mereka.
Dalam Implementasinya secara
teknis Howard (2006) mengemukakan lima langkah utama dalam pembelajaran
dengan teknik TPS, sebagai berikut:
Step 1 : Guru memberitahukan sebuah
topik dan menyatakan berapa lama setiap siswa akan berbagi informasi
dengan pasangan mereka.
Step 2 : Guru akan menetapkan waktu
berpikir secara individual.
Step 3 : Dalam pasangan, pasangan A
akan berbagi; pasangan B akan mendengar.
Step 4 : Pasangan B kemudian akan
merespon pasangan A.
Step 5 : Pasangan berganti peran.
Pembelajaran kooperatif besar
karena otak yang berbeda memungkinkan untuk berkonsentrasi pada ide-ide yang
sama. Semua siswa berasal dari orang tua yang berbeda dan karena itu mereka
memiliki kekuatan dalam bidang yang berbeda, sehingga hal ini cocok untuk
pembelajaran kooperatif. Dalam Pembelajaran TPS, jika siswa tidak kuat dalam
sebuah topik, atau tidak sepenuhnya memahami konsep ide, pasangan mereka dapat
membantu memahami dan menjelaskannya kepada mereka. Jika siswa masih tidak
mengerti mereka bisa mencoba untuk memberi pemahaman secara sederhana dan
akrab. Biasanya dua otak bekerja lebih baik dari pada satu.
Pembelajaran
TPS dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan idea tau gagasan dengan
kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
Membantu siswa untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala
keterbatasannya serta menerima segala perbedaan. Siswa dapat mengembangkan
kemampuan untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri dan menerima umpan balik.
Interaksi yang terjadi selama pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan
memberi rangsangan untuk berpikir sehingga bermanfaat bagi proses pendidikan
jangka panjang
Pembelajaran kooperatif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
v
Siswa bekerja dalam tim (team) untuk menuntaskan
tujuan belajar,
v
Tim terdiri dari siswa-siswa yang mempunyai tingkat
keberhasilan tinggi, sedang, dan rendah,
v
Bila memungkinkan tim merupakan campuran suku, budaya dan
jenis kelamin
v
Sistem penghargaan diorientasikan baik pada kelompok
maupun individu (Estiti, 2006:8),
Tidak ada komentar:
Posting Komentar